Beberapa pekan yang lallu, Timothy dan Thomas, siswa kelas 8 ditunjuk untuk mengikuti kegiatan di Seminari Mertoyudan di Magelang. Yuk kita lihat apa saja yang mereka lakukan di Seminari.

Timothy Prayoga

Perkenalkan nama saya Timothy Prayoga dari kelas 8.3. Baru-baru ini saya diutus untuk mengikuti kegiatan di Seminari Mertoyudan bersama Thomas. Banyak pengalaman yang saya dapatkan selama kami berada di sana. Di seminari, kami banyak dilatih untuk belajar disiplin. Saya juga mendapatkan momen baru di mana kami  semuanya harus silentium (hening). Momen ini dilakukan setiap setelah misa pagi. Jadi, saat sarapan tidak boleh ada suara, tidak boleh mengobrol kencang, apalagi mengeluarkan suara yang begitu keras. Saya juga mendapatkan pelajaran/materi yang sebelumnya belum pernah dipelajari. Saya juga cukup akrab dengan kakak seminari yang ada di sana, sehingga kerap kali kami bertegur sapa. Saya juga belajar untuk hidup sederhana, dimulai dengan tempat tidur yang disiapkan, barang-barang yang tersedia, begitu juga dengan makanan yang dihidangkan, dll. Semua yang disiapkan di sana serba sederhana. Di seminari, kami diajak untuk melakukan kegiatan opera. Opera sendiri adalah istilah lain yang digunakan di seminari Mertoyudan sebagai sebutan untuk kegiatan membersihkan lingkungan dengan cara kerja bakti. Contoh lingkungan yang dibersihkan adalah membersihkan kamar tidur/dormit, Goa Maria, kamar mandi, lapangan, dll. Seminari Mertoyudan juga memiliki perpustakaan yang isinya lengkap dengan novel-novel serta buku-buku lainnya. Selain itu, saya juga mengunjungi rumah musik yang berisi alat musik yang lengkap. Alat musik yang tersedia mulai dari saxophone, piano, biola, gitar, keyboard, dll. Adapun tempat yang disebut dengan GOR. Tempat ini sering dipakai untuk bermain futsal, basket, dll.

Kami juga diajak untuk melihat orkestra yang sedang latihan. Saya melihat kakak seminari yang sedang latihan drama tentang “Kisah Sengsara Yesus”. Drama tersebut nantinya akan ditampilkan pada Jumat Agung. Saya melihat pertandingan antara romo dengan kakak seminari yang ada di sana. Kegitan tersebut kerap kali disebut dengan horse. Saya bisa melihat kakak seminari yang sedang olahraga. Di seminari, sebelum dan sesudah makan kami dibiasakan untuk berdoa bersama. Waktu itu, saya diberikan kesempatan untuk memimpin doa sesudah makan siang.

Kalau di atas tadi saya bercerita silentium dilakukan setelah misa pagi, kali ini setiap hari Jumat juga ada tradis yang sama yaitu silentium (hening).  Tradisi ini dimulai pukul 17.15–sesudah makan pagi. Cukup panjang dari silentium yang sebelumnya ya.  Adapun juga kegiatan rohani malam dan study 1 dan 2 di seminari Mertoyudan. Kegiatan study ini adalah membaca buku bebas dalam keheningan. Sedangkan saat rohani malam kita harus membaca buku tentang santo/santa. Setelah membaca buku santo/santa, kami diminta untuk menceritakan Kembali isi bacaan yang telah dibaca sebelumnya secara tertulis. Kemudian kami melakukan refleksi harian pada malam hari. Refleksi ini digunakan untuk mengingat pengalaman apa sih yang berkesan di hari itu.

Saya senang berada disana, karena saya bisa mengetahui cara untuk lebih bersyukur dengan apa yang sudah dimiliki saat ini. Saya sangat kagum dengan kakak-kakak seminari, karena bisa hidup dengan lingkungan dan kondisi yang bener bener sederhana sekali.

Thomas Alfaro

Perkenalkan Nama saya Thomas Alfaro dari kelas 8.2. Sama seperti Timothy, saya mengikuti kegiatan di seminari Mertoyudan selama 4 hari 3 malam. Saat saya berada di Seminari banyak sekali hal dan pengalaman yang saya dapatkan. Saya dapat mengikuti aktivitas-aktivitas yang dilakukan oleh para kakak-kakak seminari setiap harinya. Pada saat hari yang pertama kami datang dan kami diantar oleh para kakak seminari ke tempat beristirahat kami masing-masing. Kami tidak mengikuti misa pagi, karena saat itu kami baru sampai di Mertoyudan. Kami makan pagi terlebih dahulu sebelum belajar. Masing-masing peserta dibagikan kelasnya oleh kakak seminari untuk belajar, tetapi kami mengikuti setengah pelajarannya. Setelah itu kami makan siang dan melakukan opera. Di sana opera bisa disebut kerja bakti. Selanjutnya kami tidur siang selama 1 jam. Saat selesai tidur siang kami akan dibangunkan dengan bel. Kami melanjutkan aktivitas dengan berolahraga selama 2 jam. Saat kami selesai berolahraga kami diminta untuk mandi dan bersiap-siap untuk misa pembukaan silentsium. Silentsium adalah tradisi mereka untuk harus hening dan tidak boleh berisik sampai besok pagi setelah makan pagi. Di sana kami bisa merasakan kehidupan yang sederhana dan kami dapat membuka relasi dengan teman teman.

WhatsApp Image 2024-03-28 at 13.47.38 (1)
WhatsApp Image 2024-03-28 at 13.47.37 (1)
Sebarkan artikel ini